30 Juni 2010

jogja pancen ngangeni

Kangen; sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang kurang lebih membalut rapi berbagai ingredient perasaan ingin bertemu lagi, ingin berkunjung kembali, ingin mengulangi sesuatu, ingin merasakan sensasi yang pernah dialami dalam sebuah paket perasaan di hati. Asal kata kangen adalah ‘angen’ atau angan-angan, mendapat awalan ‘ka’, ka+angen. Kira-kira berarti gambaran sebuah perasaan yang sangat didambakan hingga terbawa dalam angan-angan. Bila rasa kangen sudah menggelayut di hati, maka obat yang paling mujarab ya meladeninya. Alias memenuhi apa yang telah lama menjadi angan-angan tersebut.

Bila Anda merasa kangen dengan masa kecil, atau kangen dengan suasana Jogja ya datanglah ke Jogja. Atau setidaknya silakan datang ke Pasar Kangen Jogja (PKJ) 2010 yang berlangsung dari tanggal 26 Juni hingga 4 Juli 2010 di arena Taman Budaya Yogyakarta. Di pasar ini Anda bisa temui berbagai barang yang serba unik dari pakaian hingga jajanan, dari mainan hingga lukisan. Pokoknya tumplek bleg. Tidak ada demo rusuh berebut los atau kios, tak ada preman pasar yang bikin onar, tak ada penggusuran lapak oleh pengelola pasar yang galak. Yang ada justru suasana sesrawungan yang hangat dan segar antar stakeholder pasar yang belakangan sulit untuk ditemukan di pasar-pasar yang lain.

Ops, tunggu dulu. Rupa-rupanya Pasar Kangen ini tidak akan mengobati rasa kangen Anda. Pasar ini justru menebar dan merasuki perasaan Anda agar tetap kangen dengan suasana Jogja, lebih kangen dan lebih kangen lagi. Jadi, kapan ke Jogja lagi?

Bocoran yang saya kuping dari lurah pasar: “Kemungkinan pasarnya tidak akan bubar tanggal 4 juli, mungkin mau tetap buka untuk menyambut tamu-tamu muktamar Muhammadiyah di Jogja hingga 11 Juli 2010”.

17 Juni 2010

jogjabulary [ F : Festival ]


Jogja adalah kota beragam festival. Dari Festival Kesenian Yogyakarta yang digelar tahunan sampai festival buku yang nyaris ada setiap bulan. Dari festival layang-layang di Parangtritis sampai festival Bekakak di Ambarketawang. Dari festival gamelan yang syahdu sampai festival musik underground yang hingar-bingar. Dari festival otomotif yang serba canggih sampai festival perkutut yang serba kutut. Dari festival film indie sampai festival seni tradisi. Dari festifal orkes sampai festival jazz. Dari festival putri kecantikan sampai festival anjing kesayangan.

Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang ke-22 saat ini sedang berlangsung hingga 7 Juli 2010 mendatang.

25 Januari 2010

mantel atawa mantol?


Toko ini menuliskan kata MANTEL di papan nama dan MANTOL di dalam notanya. Bahkan sesekali kita mendengar orang menyebutnya MANTROL. Semua itu yang dimaksudkan tak lain adalah pelindung tubuh dari efek kuyup akibat air hujan.
Mana yang benar? Mau menyebutnya mantel, mantol atawa mantrol, terserah Anda yang penting pastikan ia selalu tersedia.
Tambah Gambar

05 Januari 2010

jas hujan iket blangkon

”Jas buka’ iket blangkon” artinya ”sama juga’ alias sami mawon”. Begitulah orang Jogja berpantun. Kalau ”jas hujan iket blangkon” artinya apa? Ya itu plesetan dari pantun di atas, artinya kurang lebih ”jas hujan bikinan Jogja”. Halah, maksa.

Datang ke Jogja bisa dilakukan kapan saja, baik musim kemarau ataupun penghujan, sama asyiknya. Justru menikmati Jogja di kala rintik hujan akan terasa lebih romantis. Asalkan kita bisa mempersiapkan diri agar tak ’saltum’.

Seperti halnya di awal 2010 ini. Hujan sudah mulai sering menyambangi Jogja. Nah, jika ingin liburan di Jogja tetap berkesan jangan lupa untuk bersiap, setidaknya mengantongi informasi penyedia kebutuhan kostum musim hujan.

Salah satunya adalah toko mantel dan jas hujan plastik “Serba Guna”. Berlokasi di jalan Gandekan kampung Kemetiran Lor Yogyakarta. Masih agak bingung? Kira-kira 300 meter arah selatan dari jalan Pasar Kembang alias Sarkem. Nah, sekarang sudah mulai mudheng bukan?
Sejak tahun 1960 toko ini sudah melayani kebutuhan kostum musim hujan bagi masyarakat Jogja seperti jas hujan dalam berbagai model dan ukuran, payung dan sepatu boot. Toko kecil atau lebih pas disebut kios sederhana berukuran lebih kurang 4 x 6 m2 ini selain menjual juga melayani pembuatan jas hujan 'customized'. Ternyata pesanan tidak saja datang dari kota Jogja, namun beberapa kali pesanan datang dari luar Jogja seperti Kalimantan Timur, Gorontalo, dan Papua.

Tak kalah dengan para penjual barang elektronik ataupun dealer kendaraan bermotor, salah satu hal yang membuat tempat ini laris manis dan makin dikenal masyarakat yaitu layanan purna jual berupa perbaikan gratis. ”Berlaku sepanjang masa, khusus untuk barang yang dibeli dari toko saya sepanjang barang tersebut juga masih memungkinkan untuk direparasi”, demikian kata pak Jono yang merupakan generasi ketiga pengelola toko itu. Yang juga bikin toko ini tampil beda yaitu tersedianya ukuran jumbo yang tidak dimiliki toko-toko jas hujan lainnya. ”Ukuran jumbo ini produk asli toko kami yang pembuatannya dikerjakan secara home industry”, tambah bapak tiga anak tersebut. Sedangkan untuk jas hujan dengan ukuran kecil dan sedang biasanya ia datangkan dari Jakarta dan Surabaya. Harga jas hujan yang ditawarkan sangat bervariasi dari harga Rp3 ribuan, yakni jas hujan dari bahan plastik tipis transparan. Biasa dipakai oleh para pengemudi becak, mbok-mbok bakul ataupun para "pekerja bersepeda" lainnya. Selain alasan harga yang amat murah, jas hujan jenis ini juga terasa ringan dipakai karena tidak mengganggu kala bermanuver di jalanan Jogja. Ada pula jas hujan seharga Rp350 ribu. Jenis ini didapatkan dari produsen luar negeri seperti Korea dan Vietnam via internet.

Jadi, sedia payung sebelum Jogja. Jika terlupa pun tentu tiada mengapa, toko Serba Guna s'lalu siap sedia.

26 Oktober 2009

jazz rasa desa, desa beraroma jazz

Untuk anda yang sudah tidak sabar menyantap hidangan jazz dengan resep unik ala chef Jogja, nantikan Ngayogjazz #3 dengan tajuk "Jazz Basuki Mawa Beya" pada hari Sabtu, 21 November 2009.
Seperti biasa akan disajikan secara prasmanan sejak jam 15.00 sore hingga 24.00 wib. Perhelatan kali ini digelar di Pasar Seni Gabusan Bantul Yogyakarta.
Jadi, kapan ke Jogja lagi? Kapan ngejazz lagi?

17 September 2009

mudik ala Dagadu-Djokdja

Bersama mengenang masa lalu, untuk sigap selalu ke masa depan.

Mudik; sebagian dari kitamungkin saat ini tengah menjalani atau mempersiapkannya. Mau tidak mau kegiatan ini sudah tumbuh menjadi sebuah fenomena budaya yang hanya ada dan terjadi di tanah air tercinta. Sayangnya fenomena ini lambat laun menjadi ironi rutinitas lantaran tersaji monoton yang entah sampai kapan berhenti. Ironi rutinitas yang selalu membuahkan cerita kemacetan, kecelakaan, dan segenap bias negatif lainnya. Tiba-tiba hangat menjadi topik pembicaraan, mereka yang menghalalkan segala cara asalkan bisa mudik kembali ke kampung halaman. Ironi mudik tanpa esensi kembali ke akar keluarga dan kampung halaman yang sesungguhnya. Berangkat dari pemikiran bahwa Jogjakarta sebagai salah kota yang banyak dituju oleh para pemudik, Dagadu-Djokdja sebagai brand aseli Jogja mencoba bersikap responsif mengajak warga kota Jogja lainnya untuk menjadi tuan rumah yang lebih baik dan tidak terlena hanyut dalam siklus monoton. Kali ini Dagadu Djokdja mencoba untuk merespon fenomena mudik dengan caranya, dengan harapan bisa memberi warna baru atas fenomena mudik dari tahun ke tahun. Di tahun 2009 ini, Dagadu Djokdja telah bersiap dengan ”Roemah Moedik # 5”.

Selama kurang lebih sepuluh hari, dari tanggal 18 – 27 September 2009, Unit Gawat Dagadu (UGD ) Jl. Pakuningratan No.15 -17 Yogyakarta berubah menjadi tempat singgah para pemudik untuk merasakan kembali akar budaya mereka sebagai wong Jogja. UGD menjadi tempat singgah yang akan kembali membawa kenangan–kenangan 'tempo doeloe' khususnya masa tahun 1945 dalam tajuk ”Roemah Moedik Dagadu Djokdja”.

“Roemah Moedik” mengajak para alumni Yogyakarta untuk mendayung perahu ke hulu keluarga, budaya, dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dengan menikmati suguhan kuliner dan atmosfir khas tempo doeloe tahun 1945-1949. Warna, makna, dan atmosfir perjuangan coba ditawarkan lantaran menyambung bulan Ramadhan tahun ini yang sangat spesial karena bersamaan dengan bulan Agustus yang keramat bagi bangsa Indonesia, di mana puncak perjuangan kemerdekaan bangsa terjadi di bulan ini.

Sesuai dengan keinginannya untuk memberikan sentuhan personal, tersaji juga sajian kuliner jadul yang tidak semata bicara kenikmatan rasa yang hanya di ujung lidah sampai ujung kerongkongan saja, melainkan menyelami peristiwa perkawinan budaya. Inilah bukti kakek nenek kita memiliki “kecerdasan kuliner” yang tinggi sehingga mudah menyerap dan mengembangkan pengaruh dari luar menjadi entitas baru seperti lumpia, cap jay, bir pletok, leker, sempe, spekuk, selat, dan es podeng. Semoga hal ini tidak diplesetkan maknanya sebagai “pintar makan, tapi malas bekerja”.

Pada “Roemah Moedik” ini Dagadu juga mengangkat sisi daya juang kakek nenek kita dalam merebut kemerdekaan. Karya poster dengan pendekatan propaganda perjuangan dan karya 3 dimensi replika markas pejuang akan dipresentasikan dengan pencahayaan yang temaram. Hal ini dimaksudkan untuk membangun suasana yang kontemplatif sehingga pengunjung bisa meresapi lebih dalam setiap makna karya, baik yang tersurat dan tersirat. Tidak cukup sampai disitu, “Roemah Moedik” kali ini juga menawarkan sisi hiburan interaktif, mulai dari permainan perang-perangan, lajar tancap dengan film–film tempo doeloe, sampai dengan sajian musik yang mampu membawa alam imaji kita ke tahun 1945.

Meski sudah mempersiapkan gelaran ini dengan cermat, Dagadu tetap saja merasa jika kesuksesan “Roemah Moedik” ini akan lebih terasa jika ada peran aktif semua warga Jogja untuk merasa menjadi tuan rumah yang baik. Dagadu merasa jika Yogyakarta adalah ladang untuk menyemai persahabatan, pelataran yang terhampar sebagai ruang untuk bermain dan belajar bersama antar sesama warga kota. Mari sama–sama berbenah, membuka pintu lebar-lebar, menjaga senyum silaturahmi di hari fitri, menyambut kerabat handai taulan alumni kota ini dengan saling berbagi dan mengenang cerita lama untuk merangkai harapan baru sebagai kota Jogja yang selalu menyenangkan untuk dikunjungi.

“Roemah Moedik” mengajak semua orang untuk kembali ke hulu keluarga, budaya dan sejarah perjuangan bangsa. Duduk sebentar menghirup segarnya bau tanah kelahiran dan ikut dalam antrian sungkeman dengan orang terkasih. “Roemah Moedik” sebuah perjalanan ke hulu yang bermuatan rohani yang akan menjadi bekal untuk berlayar kembali ke samudra kehidupan luas tak terbatas.

Sejenak rehat sembari bercermin pada masa lalu, siapa tahu ada hal yang bisa digugu dan ditiru.

11 Agustus 2009

giat kursus pangkal pandai

O coba kawan kaudengar ku punya crita...
Tempat biasa kuberbagi rasa
Suka duka tinggi bersama di gang gelap di balik ramainya Jogja…

Mari sini berkumpul kawan
Ooouu ooo ouo...
Dansa-dansa sambil tertawa ha.ha

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan, teman2 yang menunggu di Sayidan..

Di Sayidan… di jalanan… angkat skali lagi gelasmu kawan…
Di Sayidan… di jalanan… tuangkan air kedamaian...


Begitulah Shaggydog menggambarkan Sayidan, sebuah kampung di tengah kota Yogyakarta. Kehangatan Sayidan tidak saja menginspirasi Shaggydog dalam berkarya, setidaknya sejak Februari 2009 yang lalu di kampung itu, di gang yang diceritakan oleh Shaggydog itu, suara khas mesin jahit berputar berderecak dan canda ria beberapa remaja puteri terdengar saling menimpali bagaikan harmoni sebuah orkestrasi. Sesekali terdengar suara seseorang memberikan instruksi seolah vokal sang solis. Itulah gambaran aktifitas sebuah lembaga pendidikan Kursus Kepandaian Putri GIAT.

Lembaga pendidikan nonformal yang banyak mengajarkan kursus jahit ini ternyata sudah berdiri kurang lebih 58 tahun lamanya, tepatnya sejak bulan maret 1951. Selain Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) yang bersifat formal (sekarang berubah menjadi SMK), pada saat itu pula sebenarnya telah ada beberapa lembaga kursus serupa, namun mayoritas mereka menyampaikan materi dengan sistem yang terlalu kompleks, hingga akhirnya Nyonya Hendro Nugroho, pendiri kursus ini, berpikir untuk mendirikan lembaga kursus dengan metode yang lebih sederhana dan praktis yang benar-benar ’tailor made’ disesuaikan dengan tingkat kemampuan belajar setiap siswa. Itulah sebabnya sampai saat ini materi yang diajarkan berbeda tingkatannya untuk setiap siswa.

Pada awalnya lembaga ini bernama GIOK, yang kemudian berganti nama manjadi GIAT. Saat ini GIAT dikelola oleh generasi ketiga, yaitu oleh Ibu Sri Lestari. Sejak berdiri sampai dengan bulan Februari 2009 yang lalu GIAT beralamat di Jl Limaran No 3 di timur pasar Beringharjo atau lebih dikenal dengan Loji Kecil, namun dikarenakan tempat tersebut akan direnovasi, saat itulah kemudian GIAT pindah ke Sayidan GM 2 Gondokusuman. Tepatnya dari perempatan Gondomanan kearah selatan, sampai di lampu merah belok kiri masuk gang ke timur, kurang lebih 20 meter sudah terlihat kotak merah menyala menyapa di sisi kanan.

Ketika ditanya perihal kiat bertahan dan suksesnya, Bu Sri menyebutkan hanya kesederhanaan tanpa harapan dan mimpi yang muluk-muluk. Hanya berbekal kabar dari mulut ke mulut sampai saat ini GIAT tidak pernah kekurangan siswa. Bahkan siswa didiknya berasal dari segenap penjuru Nusantara. Muridnya kini berjumlah 27 orang, beberapa diantaranya berasal dari Medan, Kalimantan, Flores Dan NTT, dengan beragam usia, mulai dari yang masih belasan hingga lima puluhan tahun dari beragam profesi dan tingkatan ekonomi.

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan, teman2 yang menunggu di Sayidan..


Memang, Jogja pangkal pandai…